14457274_551768401681696_5931349630410655297_n

JAKARTA (22/9) – Frasa “Tata Kelola Hutan dan Lahan” (TKHL) sebagai solusi atas masalah deforestasi di Indonesia, belum menjadi frasa yang populer di tengah khalayak umum. Tidak hanya terkait awareness akan TKHL, problematika yang terjadi dalam pengelolaan hutan dan lahan seakan tidak henti-hentinya menyisakan persoalan pelik di sektor kebijakan, perekonomian, dan hukum, yang berdampak pada kehidupan masyarakat.

Salah satu industri sektor sumber daya alam yang tengah berkembang pesat di Indonesia adalah tambang. Terdapat setidaknya 6,3 juta hektare izin tambang yang masih beroperasi di sejumlah wilayah di Indonesia. Dari angka ini, sebanyak 1,37 juta hektare masih berada di Hutan Konservasi, dan 4,93 juta hektare masih beroperasi di hutan lindung. Hingga saat ini, terdapat hampir 4.000 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang statusnya belum Clean and Clear (CnC), ditertibkan oleh pemerintah.

Masalah ini melahirkan inisiatif bersama masyarakat yaitu Program Selamatkan Hutan dan Lahan melalui Perbaikan Tata Kelola (SETAPAK). Sejak digagas tahun 2011, Program SETAPAK meyakini bahwa tata kelola hutan dan lahan yang baik adalah kunci bagi pelestarian lingkungan serta pertumbuhan berkesinambungan yang berpihak pada kelompok lemah. Tidak hanya masyarakat, dukungan pemerintah pun perlu dijalankan dalam memberikan kebijakan yang memerhatikan kebutuhan masyarakat.

“Pemerintah harus membatasi atau menghentikan izin industri ekstraktif yang membuat lingkungan rusak dan mengakibatkan masyarakat rugi secara ekonomi dan sosial. Selama ini pemerintah berdalih perusahaan industri ekstraktif sebagai sumber investasi untuk kemajuan ekonomi masyarakat. Namun nyatanya, di beberapa tempat hal itu tidak terbukti, masyarakat justru semakin sengsara” kata Lili Hasanuddin, Direktur Program SETAPAK.

Dampak sosial dari industri ekstraktif khususnya pertambangan sangat banyak, salah satunya menyisakan trauma di masyarakat. Kalimantan Timur adalah salah satu wilayah yang dieksploitasi untuk tambang batu bara tanpa izin dan status perusahaan yang jelas. Lubang-lubang ini letaknya berdekatan dengan kawasan hutan dan permukiman masyarakat. Di Samarinda ratusan lubang tambang menganga mengancam nyawa masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Lubang-lubang tambang tersebut seakan-akan “mengepung” hak hidup masyarakat, dan merenggut 25 korban jiwa yang sebagian besar adalah anak-anak.

Mengingat banyaknya persoalan di lapangan, dibutuhkan wadah kolaborasi antara pemangku kebijakan, elemen masyarakat, dan media dalam membuka ruang-ruang diskusi, dan mengawal isu-isu terkait hutan dan kompleksitasnya, untuk mendorong terwujudnya upaya-upaya yang telah dilakukan berbagai pihak dalam rangka mewujudkan tata kelola pertambangan yang baik.

Untuk itu, SETAPAK (programsetapak.org) bekerja sama dengan Obsat (obsat.beritagar.id) menggelar sebuah diskusi publik bertema “Komersialisasi Tambang vs Masa Depan Hutan Indonesia” di Jakarta, Kamis (22/8). Sebagai program diskusi rutin dari situs berita beritagar.id, Obsat menjadi wadah diskusi para netizen untuk mengupas peristiwa aktual yang sedang terjadi di Indonesia bersama narasumber yang kompeten di bidangnya.

Tujuan diskusi ini, menurut Lili, adalah untuk menyuarakan pesan penyelamatan lingkungan demi peningkatan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat kepada pengambil kebijakan dan pihak perusahaan yang merusak lingkungan. Lili juga berharap masyarakat bisa bersama-sama bahu-membahu mengawasi praktik industri ekstraktif di bidang SDA dan terus mendukung gerakan penyelamatan lingkungan. (***)

Tentang Program SETAPAK
Program Selamatkan Hutan dan Lahan Melalui Perbaikan Tata Kelola (SETAPAK), sejak digagas tahun 2011, program SETAPAK meyakini bahwa tata kelola hutan dan lahan yang baik adalah kunci bagi pelestarian lingkungan serta pertumbuhan berkesinambungan yang berpihak pada kelompok lemah. SETAPAK mendukung desentralisasi pemerintahan Indonesia untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan, perlindungan, serta distribusi manfaat sumber daya alam yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Tentang Obsat
Obsat adalah program diskusi rutin dari situs berita Beritagar.id. Acara ini menjadi wadah diskusi para netizen untuk mengupas peristiwa aktual yang sedang terjadi di Indonesia bersama narasumber yang kompeten di bidangnya. Obsat, awalnya adalah abreviasi “Obrolan Langsat”, kini menjelma menjadi sebuah jenama sendiri dengan konsep yang sama. Obsat tetap diselenggarakan dengan gaya khas, santai, akrab, dan membumi. Beragam isu hangat bisa dibahas, seperti yang pernah dilakukan selama ini.

comments