Desa Banyuurip Kabupaten Gresik pada masa lalunya mengalami tantangan keberlanjutan ekonomi dan lingkungan yaitu penebangan pohon mangrove secara masiv, serta fenomena abrasi sejauh 300 meter sejak tahun 2007. Hal tersebut berdampak pada menurunnya hasil tangkapan nelayan; rusaknya ekosistem mangrove dan terkikisnya lahan tambak karena abrasi di Desa Banyuurip.

Berangkat dari hal tersebut,  pada tahun 2016 PUPUK bersama pemerintah dan masyarakat desa menyusun kerangka pembangunan ekonomi desa yang bertumpu pada pelestarian mangrove dan ekosistemnya. Salah satu solusinya adalah melalui pengembangan ekowisata mangrove dimana pentingnya menggerakkan kelompok nelayan untuk membentuk kelompok nelayan peduli mangrove. Kegiatan utama kelompok ini adalah melakukan pembibitan mangrove, penanaman kembali mangrove dan upaya lain yang mendorong konservasi mangrove. Upaya ini berkembang hingga terbentuklah pusat pembibitan mangrove yang cukup dikenal di Kabupaten Gresik.

Pusat pembibitan mangrove tersebut menjadikan peluang lain bagi desa Banyuurip untuk pengembangan lokasi mangrove sebagai pengembangan ekowisata desa. PUPUK melakukan rangkaian kegiatan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang fungsi dan peran mangrove bagi kehidupan masyarakat khususnya nelayan, Dengan memperkuat BUMDes yang ada, inisiatif tersebut dijabarkan menjadi konsep desa wisata dan ekowisata yang operasional serta membangun jaringan dengan berbagai pihak baik pemerintah, sector swasta maupun akademisi. Proses tersebut berlangsung hingga tersusunnya kerangka kerja pembangunan ekowisata mangrove sebagai bagian dari program kerja Pemerintah Desa Banyuurip. Untuk melaksanakanya, pemerintah desa Banyuurip kemudian mengalokasikan dana dari APBD Desa sebesar 150 juta di tahun pertama.

Selain pengembangan usaha pembibitan Mangrove, BUMDes juga melakukan pengembangan usaha lain untuk menunjang ekowisata seperti jasa parkir, persewaan perahu untuk keliling hutan mangrove dan cafe yang saat ini sedang dalam proses pembangunan.

Hingga kini, ekowisata mangrove Banyuurip telah berkembang dan dikenal oleh banyak masyarakat. Banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat ini termasuk Bupati dan pejabat pemerintah kabupaten bahkan provinsi. Menariknya lagi, banyak peneliti yang datang dari berbagai universitas termasuk peneliti asing yang melakukan kajian lapangan terhadap ekosistem mangrove dan masyarakatnya. Masyarakat desa semakin percaya diri dengan diterbitkannya buku tentang proses pembibitan mangrove oleh masyarakat desa Banyuurip.

Usaha ekowisata ini juga telah mampu memperoleh pendapatan bagi desa sebesar Rp 32 juta rupiah perbulan dari tiket masuk, parkir wisatawan dan penjualan bibit mangrove. Itupun belum terhitung dengan kunjungan penelitian yang rata-rata ada 30 penelitian per tahunnya.

Ekowisata mangrove yang dikelola oleh BUMDes tersebut juga memunculkan peluang kerja baru dan profesi baru bagi masyarakat.

Meskipun demikian, pada tahap awal, Desa Banyuurip juga mengalami tantangan penting dalam pengembangan ekowisata desa melalui BUMDes antara lain masih adanya kelompok yang khawatir akan adanya pengaruh masyarakat luar ke kehidupan masyarakat desa bila dibukanya akses untuk wisata. Namun kekawatiran tersebut kini mulai hilang dengan manfaat ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan.

Kini dengan menjaga dan membiakkan mangrove, hasil tangkapan nelayan kian meningkat karena makin banyak mangrove yang menjadi rumah bagi habitat laut seperti kepiting dan ikan. Dengan melestarikan mangrove, lingkungan menjadi terjaga, ekonomi desa dapat lebih berkembang dan bekelanjutan.

Mari kita kuatkan desa untuk menjaga lingkungan dan ekonominya.

comments

< KEMBALI