Mengamati kondisi bangsa kita saat ini, maka sebagai seorang lansia, dalam umurku yang sudah lebih dari 81 tahun ini, saya kadang merasa sepertinya saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa kecuali merenung, mengingat masa laluku.

Tahun 1947 saya masih kelas 2 SMP. Salah seorang guru memberi pelajaran tentang asal-usul kolonialisme. Sayup-sayup masih terngiang dalam ingatanku bahwa di bidang ekonomi, investasi diperlukan (saat itu tentu saja saya masih bengong tentang apa arti “investasi”). Jika dalam suatu Negara investasi di dalam negeri sudah jenuh, maka ada potensi untuk ekspansi ke Negara lain, baik melalui jalan damai maupun, jika perlu, melalui perang penaklukan. Itulah sebabnya Belanda pada awal abad 17 membentuk perusahaan dagang VOC. Meski itu perusahaan dagang, tetapi VOC diberi mandat oleh pemerintah Belanda sejumlah hak atau wewenang, antara lain: (a) boleh mempunyai tentara; (b) boleh mendirikan benteng di tempat-tempat yang sudah diduduki; (c) berunding dengan penguasa-penguasa setempat atas nama pemerintah Belanda, dan melalui VOC inilah awalnya, maka Belanda berhasil menjajah kita selama 350 tahun.

Demikianlah secara sekilas cerita guru saya yang secara sayup-sayup saya ingat. Jadi, hanya dengan satu perusahaan dagang, Belanda berhasil menjajah. Nah, sekarang ini, berapa puluh badan modal asing bergentayangan di Indonesia? Kadang saya merenung, apakah itu bukan “penjajahan” gaya baru? Teman saya ada yang mengejek saya bahwa saya orang yang kolot, berpikir kuno yang tak tahu perubahan jaman! Benarkah begitu? Saya tidak bisa menjawab. Lihat, kata teman itu selanjutnya, pemimpin-pemimpin kita masa kini kan dengan getol mengundangi modal asing justru untuk meningkatkan kemakmuran kita. Di semua sektor, ya pertanian, ya kehutanan, ya kelautan, ya pertambangan, dll, nantinya kan akan menjadi modern. “Apa kau tidak melihat kenyataan itu?”. Lagi-lagi saya tak bisa menjawab. Saya merenung, benarkah saya tak dapat menjawab?

Seperti bisaa, kalau sedang merenung itu pikiran melayang kemana-mana, meloncat-loncat tidak keruan. Kalau saya mengkritik mengenai berkeliarannya modal asing, ada lagi teman yang mengejek seolah-olah saya dihinggapi “xenophobia”. Lagi-lagi saya enggan menjawab.

Dulu, dalam dasawarsa 1980-an, ada pejabat tinggi yang bilang, “pengiriman TKI/TKW adalah ekspor jasa penghasil devisa!” Saat itu saya sudah mengantisipasi akan adanya akibat-akibat buruk dari pengiriman TKI/TKW, dan saya tulis dalam media cetak (saya lupa koran apa), bahwa pernyataan tersebut di atas itu berarti mencerminkan praktek perdagangan manusia, atau “perbudakan” gaya baru. Sekarang baru ribut, karena akhir-akhir ini diberitakan bahwa puluhan TKI/TKW di luar negeri mengalami nasib buruk (dihukum mati, dilecehkan, dihinakan). Gejala merebaknya tenaga kerja ke luar negeri itu karena mereka terlempar dari sarana-sarana hidup di pedesaan. Dalam dasawarsa 1980- an itulah saya sudah berteriak: “Stop pengiriman TKI/TKW, dan laksanakan Reforma Agraria.” Tetapi saya sadar, saya hanya “orang kecil”, bukan pejabat dan bukan orang kaya. Jadi tentu saja suara saya tak dihiraukan, lenyap dihembus angin lalu.

Wah, kalau saya renungkan, sebenarnya banyak sekali isyu-isyu lain yang sebenarnya sudah saya peringatkan sejak lama. Bukan hanya soal agraria, tapi aspek-aspek lain misalnya soal pendidikan, soal etika, soal perkreditan, dll. Berbagai akibat negatif dari semuanya itu, sekarang menjadi kenyataan semuanya.

Dalam kondisi yang demikian ini, saya lalu ingat sebuah nyanyian yang sudah sejak masa SMP itu saya hafal, yaitu lagu “Ibu Pertiwi”, yang terdiri dari dua stanza.

Stanza I:
“Oh, lihat Ibu Pertiwi, sedih bersusah hati
Air matamu berlinang, mas intanmu kau kenang
Hutan, gunung, sawah, lautan, simpanan kekayaan
Kini Ibu sedang lara, merintih dan mendo’a.”

Ya, hutan, gunung, sawah, lautan, yang merupakan kekayaan sumber alam kita sekarang sedang dijarah-rayah oleh kekuatan modal luar. “Ibu Pertiwi sedang lara!”. Mengapa bisa terjadi? Karena,sadar atau tidak, para pemimpin (atau bukan pemimpin, tapi elit penguasa) masa kini, telah mengingkari cita-cita Proklamasi 1945. Moralitas sedang merosot tajam. Korupsi merajalela.

Sekali lagi saya merenung. Apa yang bisa dilakukan? Jawaban yang tepat sudah seharusnya datang dari generasi muda yang sekarang sudah banyak yang pintar-pintar. Tugas generasi baru memang berat. Jauh lebih berat daripada tugas sejarah yang diemban oleh para pendiri bangsa dan para pejuang 1945. Dulu, tugasnya hanya mengusir penjajah, perang melawan Jepang, Inggris, dan Belanda. Tugas generasi baru, seperti kata Bung Karno, adalah “melawan bangsa sendiri”. Bukan dalam arti perang fisik, melainkan melawan sikap mental yang khianat. Meluruskan kembali kepada citacita Proklamasi Kemerdekaan 1945! Generasi baru harus ingat kepada janjinya yang tercermin dalam stanza II lagu “Ibu Pertiwi”.

“Oh, Ibu, Ibu Pertiwi, kami datang berbakti
Lihatlah putera puterimu, menggembirakan Ibu
Oh Ibu kami tetap cinta, puteramu yang setia
Menjaga harta pusaka, untuk Nusa dan Bangsa.”

Wah, saya hanya bisa berdo’a. Semoga generasi baru itu memang mampu memenuhi janjinya seperti yang saya renungkan.

Karena merenung itu sama dengan, atau semacam “ngelamun”, maka pikiran berkeliaran kemana-mana tanpa arah. Apalagi merenungnya sambil tiduran. Mendadak isyu yang sedikit lain muncul dalam pikiran, karena teringat pertanyaan yang sering datang dari teman, bagaimana pandangan saya tentang wacana yang sedang hangat yaitu soal “hukum adat”. Wah, belum sempat membayang-bayangkan bagaimana menjawabnya, tahu-tahu saya bangun sudah pagi. Jadi, tadinya ternyata saya tertidur. Karena itu, soal ini lain kali saja saya cerita, hehehe.

Penulis: Gunawan Wiradi
Sumber: Sajogyo Institute

comments